Dulu saya pikir liburan ke pantai itu gampang. Tinggal bawa anak, bekal, tikar, beres. Ternyata anggapan itu cuma bertahan sampai anak kedua saya umur tiga tahun dan mulai berteriak di tengah terik karena pasir masuk ke sandalnya. Sejak itu saya sadar, yang bikin liburan berantakan bukan tempatnya, tapi cara saya menyiapkan diri.
Berangkat pagi itu bukan sekadar soal macet
Saya ingat betul perjalanan ke Pantai Anyer waktu itu. Kami berangkat jam sembilan pagi, niatnya biar anak-anak masih segar. Eh, sampai lokasi justru pas matahari paling menyengat. Anak saya langsung rewel, minta pulang, padahal baru sepuluh menit turun dari mobil.
Belakangan saya ngobrol sama tetangga yang hobi camping bareng anak kecil. Dia bilang, kuncinya bukan jam berangkat, tapi jam tiba. Kalau mau ke pantai bareng balita, usahakan sampai sebelum jam delapan pagi atau setelah jam empat sore. Saya coba di perjalanan berikutnya ke Carita, dan hasilnya beda banget. Anak-anak main pasir dengan tenang, saya bisa duduk sambil minum teh tanpa drama.
Kedengarannya sepele, tapi buat saya ini pelajaran besar. Selama ini saya fokus ke destinasi, padahal yang menentukan mood anak justru waktu kedatangan.
Baca juga: Ceklis Jalan-Jalan Seminggu buat Kamu yang Baru Hidup Mandiri
Bekal yang saya kira cukup, ternyata kurang satu hal
Saya selalu bawa air minum, camilan, dan baju ganti. Tapi ada satu barang yang sering saya lupakan: handuk kecil basah dalam plastik. Anak-anak di pantai itu tangannya selalu penuh pasir, dan tiap kali mau makan, saya harus rela antre di toilet umum yang airnya sering mati.
Sejak bawa handuk basah sendiri, semuanya jadi lebih gampang. Saya juga mulai bawa satu botol air bersih khusus buat cuci tangan dan kaki. Kelihatannya ribet, tapi begitu kamu alami sendiri anak menangis karena mata kemasukan pasir dan nggak ada air bersih, kamu bakal paham rasanya.
Liburan bawa anak kecil itu bukan soal seberapa jauh kamu pergi, tapi seberapa siap kamu menghadapi hal-hal kecil.
Momen yang paling saya syukuri justru yang paling sederhana
Ada satu sore di Pantai Sawarna, Banten, yang sampai sekarang masih saya ingat. Anak saya duduk di pinggir air, sibuk mengubur kakinya sendiri. Suami saya ngobrol sama nelayan setempat. Saya cuma duduk di belakang mereka, diam, sambil ngeliatin ombak.
Nggak ada foto yang bagus dari sore itu. Nggak ada cerita seru. Tapi justru di situ saya merasa, ya, ini yang saya cari. Bukan itinerary padat, bukan tempat hits yang harus dikunjungi. Cuma waktu yang nggak buru-buru.
Dan itu yang sering saya lupa waktu masih sibuk nyusun jadwal liburan. Saya terlalu sibuk mikirin mau ke mana besok, sampai lupa menikmati hari ini. Sekarang saya selalu sisakan satu hari kosong dalam tiap perjalanan. Nggak ada rencana, nggak ada target. Kadang cuma main di halaman penginapan, atau jalan kaki keliling kampung.
Pelajaran yang saya bawa pulang
Kalau kamu ibu rumah tangga yang lagi mikirin liburan bareng anak, mungkin ini bisa jadi renungan. Nggak semua hal harus direncanakan sampai detail. Kadang yang bikin liburan berkesan justru hal-hal yang nggak masuk rencana.
- Datang lebih pagi atau lebih sore, jangan pas matahari lagi galak-galaknya.
- Bawa handuk basah, air bersih, dan kantong plastik buat sampah kecil.
- Sisakan satu hari tanpa agenda, biar anak (dan kamu) bisa bernapas.
- Jangan terlalu banyak bawa barang, karena yang paling sering dipakai cuma beberapa.
- Kalau anak rewel, jangan langsung panik. Cek dulu lapar, haus, atau kepanasan.
Saya bukan ahli parenting, apalagi ahli traveling. Saya cuma ibu rumah tangga yang belajar dari kesalahan sendiri. Tapi kalau pengalaman ini bisa bikin liburan kamu berikutnya sedikit lebih tenang, ya sudah, cukup.
Liburan itu nggak harus sempurna. Yang penting kita pulang dengan cerita, bukan dengan rasa kesal karena semuanya nggak sesuai rencana.