Jadi mahasiswa rantau itu semacam punya dua kehidupan: satu di kota tempat kamu kuliah, satu lagi di kota asal yang cuma kamu datangi pas mudik. Nah, masalahnya, kota tempat kamu merantau sering banget belum kamu jelajahi beneran. Padahal kamu tinggal di sana berbulan-bulan, tapi yang kamu tahu cuma rute kos-kampus-warmindo. Relate?
Gue ngalamin itu waktu awal-awal merantau di Jogja. Tiga semester pertama, hidup gue cuma seputar kampus dan kos. Temen gue sampai bilang, "Lo tinggal di Jogja tapi nggak pernah ke Pantai Timang? Serius?" Nah, dari situ gue mulai belajar jalan-jalan versi mahasiswa: modal tipis, waktu mepet, tapi tetap bisa dapet cerita. Ini panduan langkah demi langkah yang bisa kamu contek.
Baca juga: Anak Bosan di Rumah? Coba 7 Hari Jelajah Jawa Saja
Langkah 1: Mulai dari yang Ada di Depan Mata
Kesalahan terbesar mahasiswa rantau adalah langsung mikirin Bali atau Labuan Bajo, padahal di kotanya sendiri masih banyak tempat yang belum didatangi. Sebelum ngayal jauh, coba deh keliling kota kamu dulu pakai motor atau angkot. Cari tempat yang hidden gem — bisa museum kecil, pasar tradisional, atau situs sejarah yang tiket masuknya cuma lima ribu perak.
Waktu itu gue nemu sebuah kafe buku di gang sempit dekat kampus yang ternyata jadi tempat favorit gue sampai sekarang. Nggak ada di Google Maps populer, tapi suasananya juara. Nah, momen kayak gini yang bikin kamu merasa benar-benar tinggal di kota itu, bukan cuma numpang tidur.
Caranya gimana? Gampang. Ikutin akun komunitas lokal di Instagram, baca thread di Twitter soal kota kamu, atau tanya senior yang udah lama di sana. Mereka biasanya punya rekomendasi yang nggak akan muncul di artikel wisata biasa.
Langkah 2: Atur Waktu Libur Biar Nggak Bentrok Sama Deadline
Ini bagian yang paling sering bikin rencana jalan-jalan gagal. Kamu udah semangat banget nyusun itinerary, eh H-2 ada tugas kelompok yang harus dikumpulin. Kenapa? Karena kamu nggak cek kalender akademik dengan benar.
Tips dari gue: catat semua tanggal ujian, deadline tugas besar, dan minggu tenang di awal semester. Setelah itu, tandai tanggal-tanggal yang benar-benar kosong. Biasanya, minggu setelah ujian tengah semester atau jeda sebelum UAS itu momen paling aman buat healing singkat.
Kalau kamu tipe yang gampang overthinking, mulai dari perjalanan satu hari alias day trip dulu. Nggak perlu nginep, nggak perlu bawa banyak barang. Pagi berangkat, sore balik ke kos. Risikonya kecil, tapi efek segarnya lumayan banget buat otak yang udah penuh sama materi kuliah.
Langkah 3: Susun Budget ala Anak Kos, Bukan ala Influencer
Nah, ini inti dari semuanya. Jalan-jalan itu nggak harus mahal, yang bikin mahal itu gaya-gayanya. Kamu nggak perlu nginep di hotel bintang empat atau makan di restoran hits demi dapet foto bagus. Percaya deh, yang bikin perjalanan berkesan itu pengalamannya, bukan feed Instagram-nya.
Berikut pembagian budget simpel yang biasa gue pakai:
- Transportasi (40%) — pilih bus, kereta ekonomi, atau patungan bensin sama temen. Kalau bisa, hindari tanggal libur nasional karena harga tiket melonjak.
- Penginapan (25%) — hostel, guesthouse, atau numpang di rumah temen yang kebetulan asalnya dari daerah situ. Jangan gengsi, ini cara paling hemat.
- Makan (25%) — makan di warung lokal, bukan di restoran turis. Selain lebih murah, rasanya biasanya lebih autentik.
- Dana darurat (10%) — buat jaga-jaga kalau ada biaya tak terduga kayak tiket masuk naik atau ojek mendadak.
Gue pernah trip tiga hari ke Dieng cuma dengan modal 400 ribu. Caranya? Naik bus ekonomi, nginep di homestay murah, dan makan di warung dekat penginapan. Hasilnya? Pemandangan sunrise-nya tetap sama indahnya kayak yang difoto influencer.
Nabung Receh Itu Beneran Works
Kedengeran klise, tapi nyatanya ampuh. Sisihkan lima sampai sepuluh ribu tiap hari dari uang jajan atau sisa beasiswa. Dalam sebulan, kamu udah punya 150-300 ribu yang cukup buat day trip ke kota sebelah. Kuncinya: pisahkan uang ini dari dompet utama, misalnya di rekening terpisah atau celengan yang susah dibuka.
Langkah 4: Cari Temen Travel yang Sepaham
Jalan-jalan sendirian itu seru, tapi buat pemula, punya temen seperjalanan bisa bikin lebih tenang dan lebih murah karena biaya bisa dibagi. Tapi hati-hati, pilih temen yang seleranya mirip. Kalau kamu tipe yang suka bangun pagi buat lihat sunrise, jangan ajak temen yang hobinya rebahan sampai siang. Dijamin ribut di tengah jalan.
Perjalanan yang menyenangkan bukan soal destinasi mewah, tapi soal siapa yang duduk di sebelahmu saat menikmati mi instan di pinggir jalan.
Cara paling gampang nemu temen travel: mulai dari lingkaran terdekat. Ajak temen sekelas, temen satu kos, atau gabung komunitas mahasiswa pecinta alam di kampus. Biasanya mereka rutin ngadain trip bareng dengan biaya patungan yang jauh lebih murah.
Langkah 5: Jangan Lupa Kabari Orang Tua dan Jaga Diri
Ini yang sering dilupain anak muda. Kamu boleh bebas jalan-jalan, tapi tetap kabari orang tua soal rencana dan lokasi kamu. Bukan karena mereka mau ikut campur, tapi supaya mereka tenang. Cukup kirim lokasi lewat WhatsApp, foto penginapan, dan jadwal pulang. Simpel, tapi penting banget.
Selain itu, selalu siapkan nomor darurat, simpan uang tunai secukupnya, dan jangan memaksakan diri ke tempat yang risiko keselamatannya tinggi kalau kamu belum berpengalaman. Jalan-jalan itu buat senang-senang, bukan buat cari masalah.
Intinya, jadi mahasiswa rantau itu kesempatan emas buat menjelajahi Indonesia dari sudut yang nggak banyak orang tahu. Kamu nggak perlu nunggu kaya atau nunggu lulus dulu. Mulai dari kota sendiri, atur waktu dengan cerdas, kelola budget ala anak kos, dan pilih temen travel yang tepat. Sisanya? Tinggal berangkat dan nikmatin ceritanya. Karena nanti pas udah kerja, kamu bakal kangen masa-masa bisa trip cuma modal nekad dan tabungan receh.