Dua tahun setelah saya gantung pensil kerja, ada satu hal yang saya sesali: terlalu lama menunda jalan-jalan karena mikir ini-itu. Dulu saya selalu bayangin liburan itu harus paket lengkap, pesan agen travel, ikut rombongan, jadwal padat dari pagi sampai malam. Ternyata setelah saya coba sendiri dengan cara yang lebih santai, justru itu yang bikin saya ketagihan. Bukan paketnya yang salah, tapi cara saya memandang perjalanan yang perlu diubah.
Kenapa Saya Dulu Takut Jalan Sendiri
Jujur saja, waktu masih aktif kerja, saya tipe orang yang kalau jalan-jalan maunya serba diurus. Pesan paket, bayar, berangkat, selesai. Simpel. Tapi begitu pensiun dan punya banyak waktu luang, saya sadar ada yang aneh. Perjalanan yang dulu terasa "aman" itu ternyata bikin saya lelah. Bangun subuh, buru-buru ke lobi, ikut jadwal yang nggak bisa ditawar. Pulang bukan segar, malah pegal.
Istri saya yang pertama kali ngomel. "Kita ini udah nggak dikejar deadline kantor, kenapa masih dikejar jadwal?" Kata-kata itu nempel. Sejak itu saya mulai coba jalan sendiri, tanpa paket, tanpa target harus lihat ini-itu. Dan ternyata, buat usia saya sekarang, kebebasan itu jauh lebih berharga daripada itinerary yang rapi.
Baca juga: Anakku Rewel di Pantai, Ternyata Ini yang Bikin Saya Salah Paham
Perjalanan Pertama yang Mengubah Cara Pandang
Trip pertama versi baru ini sederhana saja: kami ke Yogyakarta, tapi nggak pakai paket. Naik kereta dari Jakarta, nginep di penginapan kecil dekat Malioboro, dan yang penting—nggak ada alarm. Pagi pertama kami bangun jam tujuh, sarapan di warung dekat penginapan, lalu jalan kaki tanpa tujuan jelas ke arah utara. Ketemu pasar tradisional, ngobrol sama penjual gudeg, dan malah dapat cerita soal sejarah kampung yang nggak ada di buku panduan mana pun.
Momen itu yang bikin saya sadar. Selama ini saya jalan-jalan cuma "mampir" ke tempat orang, bukan benar-benar mengalami tempat itu. Paket wisata memang efisien, tapi efisien itu bukan tujuan pensiunan kayak saya. Yang saya cari justru waktu yang mengalir pelan, percakapan yang nggak terburu-buru, dan perasaan bahwa saya benar-benar ada di sana.
Perjalanan buat saya sekarang bukan soal berapa tempat yang dikunjungi, tapi berapa banyak yang saya rasakan.
Pelajaran yang Saya Dapat Setelah Beberapa Trip
Setelah beberapa kali jalan dengan gaya santai ini—ke Bali, ke Danau Toba, ke beberapa kota kecil di Jawa—ada beberapa hal yang saya pelajari dan mungkin berguna buat kamu yang juga sudah masuk masa pensiun.
1. Pilih satu basis, jangan pindah-pindah tiap hari
Dulu saya pikir makin banyak kota dikunjungi makin puas. Salah besar. Sekarang saya lebih suka nginep di satu tempat tiga-empat malam, lalu menjelajah sekitarnya. Badan nggak capek, dan kita jadi kenal satu daerah lebih dalam. Di Ubud misalnya, saya bisa tahu warung mana yang enak buat sarapan, tukang parkir yang ramah, sampai jalan tikus yang bikin perjalanan ke pasar lebih dekat.
2. Sisakan waktu kosong di setiap hari
Ini yang paling sering saya tekankan ke teman-teman sesama pensiunan. Jangan isi jadwal penuh. Sisakan minimal setengah hari buat "nganggur" — duduk di taman, ngopi, atau tidur siang. Kedengarannya boros waktu, tapi justru di situlah istirahatnya. Badan kita bukan badan umur tiga puluh lagi, dan itu bukan kelemahan, itu kenyataan yang harus dihormati.
3. Pilih transportasi yang nyaman, bukan yang tercepat
Naik bus ekonomi yang penuh sesak buat hemat seratus ribu? Buat saya sekarang nggak worth it. Punggung saya protes. Saya lebih pilih kereta eksekutif atau pesawat dengan jadwal siang, meski harganya lebih mahal. Uang pensiun itu buat dinikmati, bukan cuma ditabung sampai nggak sempat dipakai. Tapi tentu saja, tetap disesuaikan dengan kantong ya, jangan sampai kebablasan.
4. Bawa obat dan asuransi, jangan cuma kamera
Ini serius. Waktu di Toba, teman saya yang ikut trip kena masuk angin parah karena perubahan cuaca. Untung bawa obat-obatan. Sejak itu saya selalu siapkan kotak kecil berisi obat pribadi, plus asuransi perjalanan yang murah tapi menenangkan. Bukan karena takut, tapi karena kita nggak pernah tahu apa yang terjadi di jalan.
Kenapa Cara Ini Cocok buat Pensiunan
Bukan berarti paket wisata itu buruk. Buat yang memang suka praktis dan nggak mau ribet mikir, paket tetap pilihan bagus. Tapi kalau kamu punya waktu, energi, dan keinginan untuk menikmati perjalanan dengan tempo sendiri, coba deh lepas dari paket. Rasanya beda.
Saya ingat satu sore di tepi Danau Toba. Nggak ada jadwal, nggak ada target. Saya cuma duduk di bangku kayu, ditemani secangkir kopi, melihat air yang tenang. Nggak ada yang istimewa secara visual—nggak ada foto Instagramable yang saya ambil. Tapi sore itu jadi salah satu kenangan paling saya ingat dari semua perjalanan saya.
Mungkin itu intinya. Pensiun bukan soal berhenti bergerak, tapi soal bergerak dengan cara yang akhirnya sesuai dengan diri kita sendiri. Jangan buru-buru pesan paket wisata cuma karena takut repot. Coba dulu jalan pelan-pelan. Siapa tahu, kamu malah menemukan versi perjalanan yang jauh lebih membahagiakan.
Kalau boleh saran terakhir: mulai dari yang dekat dulu. Kota sebelah, gunung yang nggak terlalu jauh, atau pantai yang bisa dijangkau kereta. Nggak perlu langsung jauh. Yang penting mulai. Karena pengalaman saya, perjalanan terbaik itu bukan yang paling jauh, tapi yang paling bisa dinikmati tanpa terburu-buru.