Dua tahun lalu, gue dan istri sempat hampir batal liburan gara-gara dompet cuma tersisa sekitar Rp700 ribu setelah bayar cicilan. Anak kami waktu itu baru tiga tahun. Kami tinggal di Bekasi, kerja kantoran, dan tiap akhir bulan rasanya napas selalu mepet. Tapi justru dari situ kami belajar satu hal: liburan itu soal timing dan rute, bukan soal seberapa tebal isi dompet.
Kalau kamu keluarga kecil di kota besar dengan waktu terbatas dan modal pas-pasan, artikel ini buat kamu. Bukan janji manis soal jalan-jalan gratis, tapi cara-cara realistis yang udah kami coba sendiri bareng anak.
Baca juga: Bikin Anak Rewel di Jalan, Ternyata Mitos Ini Biang Keroknya
Mulai dari yang paling dekat, bukan yang paling viral
Kesalahan pertama yang sering kita lakuin: buka Instagram, lihat pantai di Bali atau gunung di Lombok, terus langsung ngerasa liburan nggak mungkin. Padahal di radius 100 kilometer dari Jakarta, ada banyak tempat yang lumayan banget buat anak kecil.
Kami pernah coba ke Kebun Raya Bogor cuma modal tiket masuk dan bensin. Anak kami lari-lari lihat rusa, kami duduk di bawah pohon sambil bawa bekal nasi goreng dari rumah. Total pengeluaran hari itu nggak sampai Rp150 ribu. Bandingkan sama trip ke mal yang tiket parkirnya aja udah bikin geleng-geleng.
Coba deh list dulu tempat-tempat dalam radius satu setengah jam dari rumah. Danau, kebun binatang mini, curug kecil, atau bahkan alun-alun kota. Sering kali yang bikin liburan berkesan bukan tempatnya, tapi suasana barunya buat anak.
Bikin daftar "wisata lokal" di peta sendiri
Gue biasanya buka Google Maps, zoom ke area sekitar rumah, lalu tandai tempat-tempat yang belum pernah kami datangi. Ada satu waduk kecil 40 menit dari rumah yang ternyata punya area piknik dan angsa. Anak kami sampai cerita ke gurunya di sekolah. Padahal biayanya cuma bensin dan dua gelas es teh.
Atur waktu, bukan cuma uang
Buat keluarga di kota besar, waktu itu komoditas yang lebih mahal dari uang. Weekend cuma dua hari, dan Sabtu pagi biasanya habis buat beres-beres rumah. Jadi kami ambil strategi yang agak nggak umum: jalan di hari Minggu pagi buta.
Berangkat jam lima, sampai lokasi jam tujuh, jalan-jalan sampai jam sebelas, lalu pulang sebelum macet. Anak masih segar, kita nggak kelelahan, dan biaya makan cuma sekali. Ini jauh lebih hemat daripada berangkat siang yang ujung-ujungnya kena macet, jajan di jalan, dan pulang dalam keadaan emosi.
Liburan yang murah itu bukan yang paling jauh, tapi yang paling pas waktunya.
Kalau kamu punya cuti, coba ambil hari Jumat. Jumat siang berangkat, Minggu siang pulang. Dua malam di penginapan murah pinggiran kota sudah cukup buat "reset" kepala. Kami pernah nginep di guest house dekat Ciwidey dengan tarif Rp250 ribu per malam, sarapan sudah termasuk. Anak senang ada halaman buat lari-lari.
Modal terbatas? Ini yang biasanya kami potong
Ada beberapa pos pengeluaran yang menurut gue paling bisa ditekan tanpa bikin liburan jadi hambar:
- Makan di luar. Bawa bekal sederhana: nasi, telur dadar, buah. Anak-anak biasanya lebih lahap makan di tikar daripada di restoran.
- Oleh-oleh. Jujur aja, sebagian besar oleh-oleh cuma numpuk di lemari. Kami sekarang beli satu camilan khas daerah, itu aja.
- Penginapan mewah. Untuk trip singkat, yang penting bersih dan ada air panas. Bintang tiga sudah lebih dari cukup.
- Tiket masuk atraksi mahal. Ganti dengan taman kota, pantai gratis, atau jalur hiking ringan yang ramah anak.
Yang nggak kami potong justru hal-hal kecil yang bikin anak senang: es krim satu scoop, atau mainan murah di pasar lokal. Kadang Rp20 ribu bisa bikin hari anak jadi sempurna.
Nabung receh, bukan nabung besar
Ini mungkin terdengar klise, tapi beneran works. Kami bikin satu kaleng bekas biskuit di dapur, khusus buat "dana jalan-jalan". Setiap hari, sisa uang kembalian masuk ke situ. Kadang cuma Rp2 ribu, kadang Rp10 ribu. Dalam tiga bulan, isinya bisa Rp400 ribu lebih.
Yang penting bukan jumlahnya, tapi kebiasaannya. Anak juga jadi ikut belajar kalau liburan itu sesuatu yang direncanakan, bukan impulsif. Dia malah semangat ikut ngitung isi kaleng tiap minggu.
Kalau kamu punya penghasilan tetap, coba sisihkan 5 persen ke rekening terpisah khusus liburan. Kecil, nggak kerasa, tapi setahun kemudian lumayan buat satu trip dua malam.
Jangan tunggu "nanti pas mampu"
Gue sering dengar kalimat, "nanti kalau anak udah gede aja" atau "nanti kalau udah ada rezeki lebih". Masalahnya, "nanti" itu nggak pernah datang dengan sendirinya. Anak tumbuh cepat, dan momen kecil kayak dia pertama kali lihat kerbau di sawah atau lari ketakutan dikejar angsa itu nggak bisa diulang.
Liburan buat keluarga kecil di kota besar nggak harus jadi proyek besar. Kadang cukup satu hari Minggu, satu mobil, dan satu tikar. Yang penting kamu berangkat. Karena kenangan itu nggak butuh tiket mahal, dia cuma butuh kamu ada di sana.
Jadi, minggu ini coba buka peta, tandai satu tempat dalam radius satu jam dari rumah, dan siapkan bekal. Nggak usah nunggu gajian besar. Kadang yang kamu butuhin cuma keberanian buat bilang, "ayo kita jalan".