Gue bukan orang yang doyan jalan jauh. Tumbuh di desa kecil, jalan-jalan paling jauh ya ke pasar kecamatan yang jaraknya cuma tujuh kilometer. Jadi waktu pertama kali harus naik bus antarkota sendirian menuju kota besar, rasanya kayak mau berangkat ke negara lain.
Waktu itu gue masih dua puluh tahunan, baru lulus, dan dapat tawaran kerja di kota. Tas gue cuma satu ransel butut berisi baju tiga potong, odol, dan sebungkus roti buat bekal. Ibu nangis di depan terminal. Bapak cuma bilang, "Telepon kalau sudah sampai." Singkat. Tapi matanya berkaca-kaca.
Baca juga: Liburan Tetap Jalan Meski Cuma Modal Rp500 Ribu, Ini Rahasia Keluarga Muda
Berangkat dengan Modal Nekat dan Uang Pas-Pasan
Bus yang gue naiki bukan bus mewah. Joknya keras, AC-nya kalah sama kipas angin di rumah, dan penumpangnya penuh sampai ada yang duduk di lorong pakai kursi lipat. Gue dapat kursi dekat jendela, tepat di atas roda. Sepanjang jalan badan gue ikut bergoyang tiap kali bus lewat jalan berlubang.
Tapi justru di situlah pelajaran pertama datang. Gue sadar, ternyata perjalanan jauh itu bukan soal kenyamanan. Yang penting kita sampai. Orang-orang di bus ini, mulai dari bapak yang bawa karung berisi sayur sampai ibu-ibu yang menggendong anak, semuanya punya tujuan yang sama: mencari hidup yang lebih baik di tempat lain.
Ada satu momen yang nggak akan gue lupa. Bus berhenti di rest area tengah malam. Semua penumpang turun, beli kopi, ngobrol sama orang yang baru dikenal lima menit lalu. Kayak sudah kenal lama. Di desa, gue jarang ngobrol sama orang asing. Di bus, semua orang asing jadi teman sebangku.
Yang Gue Pelajari soal Uang di Jalan
Sebelum berangkat, ibu sempat membekali gue uang lebih dari harga tiket. Katanya buat jaga-jaga. Ternyata bener. Di tengah perjalanan, bus berhenti di rumah makan yang harganya lumayan bikin kaget. Nasi bungkus biasa aja, tapi harganya hampir dua kali lipat harga di warung dekat rumah.
Dari situ gue belajar satu hal penting: selalu siapkan uang lebih untuk perjalanan. Bukan buat foya-foya, tapi buat keadaan darurat. Mau beli air minum, mau ke toilet yang bayar, atau tiba-tiba harus nambah ongkos karena bus telat. Kalau uang pas-pasan, perjalanan bisa jadi stres sendiri.
Gue juga belajar soal cara milih tempat makan. Jangan langsung percaya sama rumah makan yang dipilih sopir bus. Kadang harganya mahal karena udah kerja sama. Mending turun sedikit, cari warung yang penjualnya juga makan di situ. Biasanya lebih murah dan lebih enak.
Ketemu Orang yang Bikin Gue Berpikir Ulang soal Rumah
Di tengah perjalanan, gue duduk sebelahan sama seorang bapak tua yang bawa dua karung penuh. Dia mau jualan di kota. Kami ngobrol panjang, dari soal harga cabai sampai soal anaknya yang kuliah di luar pulau. Dia bilang, "Kalau capek di jalan, ingat aja rumah. Di rumah ada yang nunggu."
Kalimat itu sederhana, tapi nempel banget di kepala gue. Selama ini gue mikir rumah itu tempat yang membosankan. Desa kecil, nggak ada mall, nggak ada bioskop, internet lemot. Tapi setelah duduk sebelas jam di bus, gue sadar rumah itu bukan soal fasilitas. Rumah itu soal orang yang nunggu kita pulang.
Perjalanan jauh bikin kita ngerti, kadang yang kita cari di tempat baru itu sebenarnya cuma alasan buat balik ke tempat lama.
Gue akhirnya sampai di kota tujuan sore harinya. Badan pegel, baju bau keringat, tapi ada rasa bangga yang aneh. Gue berhasil. Sendirian. Modal nekat dan doa ibu.
Pelajaran yang Gue Bawa Sampai Sekarang
Bertahun-tahun setelah perjalanan itu, gue udah beberapa kali naik bus antarkota lagi. Tiap kali naik, selalu ada cerita baru. Ada yang bikin kesal, ada yang bikin ketawa, ada juga yang bikin gue mikir keras.
Beberapa hal yang selalu gue ingat dan mungkin berguna buat kamu yang tinggal di desa atau kota kecil dan mau coba perjalanan jauh:
- Jangan takut berangkat sendirian. Awalnya serem, tapi justru di situlah kita belajar banyak soal diri sendiri.
- Bawa uang lebih dari perkiraan. Bukan buat belanja, tapi buat jaga-jaga. Perjalanan itu penuh kejadian tak terduga.
- Ngobrol sama orang di sebelah. Banyak cerita dan pelajaran yang nggak akan kamu dapat kalau diam saja sepanjang jalan.
- Catat hal-hal kecil. Nama tempat makan, jam berangkat bus, harga tiket. Suatu saat pasti kepakai lagi.
- Jangan lupa kabari keluarga. Sesampai di tujuan, langsung telepon rumah. Bukan cuma buat mereka, tapi buat ketenangan kamu sendiri juga.
Gue bukan orang yang pinter bikin itinerary rapi atau punya budget liburan gede. Gue cuma orang desa yang pernah nekat naik bus sendirian dan pulang bawa banyak cerita. Kalau gue bisa, kamu juga bisa.
Yang penting, jangan lupa balik. Karena sejauh apa pun kita pergi, selalu ada rumah yang nungguin kita pulang. Kadang kita baru sadar betapa berharganya rumah setelah duduk sebelas jam di kursi bus yang keras.